Tuesday, February 24, 2009

Fenomena Irrasional, Ponari Sang Putra Petir.

Akhir-akhir ini, kita disuguhkan oleh suatu fenomena aneh yang terjadi pada suatu wilayah, tepatnya di desa Brodot, Jombang, Jawa Timur. Fenomena yang tidak hanya menyedot puluhan ribu warga untuk mencari pengobatan alternatif, tetapi juga menyedot perhatian masyarakat lain yang semakin hari semakin meluas. Bahkan mungkin karena didorong oleh suatu kekhawatiran, tokoh agama tidak cukup memberikan fatwa pelurusan pemahaman dari belakang layar, tetapi harus terjun langsung ke lapangan. Begitu menariknya fenomena tersebut, hingga media masapun tidak cukup sekali mengulasnya. Tak pelak, bisa jadi karena andil pemberitaan di media pula, maka yang berdatangan ke Brodot tidak hanya warga sekitar, tetapi sudah menjangkau jauh dari wilayah lain, mungkin sudah sampai luar Jawa Timur. Konsentrasi warga di Brodot, bak munculnya luapan lumpur lapindo yang semakin hari semakin sulit dibendung. Semakin hari, semakin menyemut, hingga perlu dibentuk kepanitiaan pengobatan. Konsentrasi itupun telah menyedot uang tidak sedikit, bahkan bisa dibilang sangat besar, miliaran rupiah. Wow……..! Seorang bocah secara tiba-tiba telah menyedot perputaran uang sebesar itu. Mungkin banyak yang diuntungkan, tetapi tentu ada ongkos yang harus dibayar, terutama oleh warga sekitar termasuk keluarga yang bersangkutan. Desa yang sebelumnya aman tenteram, warganya leluasa keluar masuk kampung, bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, kini harus berjuang keras membuka sumbatan ribuan warga, agar bisa beraktifitas, atau sekalian ikut terlibat dalam penangangan antrian itu. Sang bocahpun bahkan harus rela meninggalkan bangku sekolah, artinya harus meninggalkan kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Tidak cukup sampai disitu, kesempatan bermain bersama teman-teman sebaya sebagaimana keceriaan sebelumnya terampas oleh panjangnya antrian yang harus ditangani. Sang ayahpun harus dirawat di rumah sakit karena terlibat tarik ulur kepentingan sang anak ajaib.

Daya tarik utama atas fenomena itu bersumber pada sebuah batu petir yang dimiliki sang bocah kecil bernama Ponari. Konon, batu itu terkait sambaran petir yang dibawa pulang oleh Ponari. Konon pula, batu itu bisa kembali sendiri ke rumah Ponari setelah dibuang ke kebun.Singkat kata, batu itu sangat istimewa, sehingga sang bocah mampu mengobati tetangganya yang sakit dengan perantaraan batu itu. Pilot project (pertama) ponari ternyata berhasil. Alhasil, bak butiran yang bergulung di atas gunung salju, berita penyembuhan itu berhembus dari mulut ke mulut, dari satu rumah ke rumah yang lain, dari satu kampung ke kampung yang lain, begitu seterusnya, dan ditambah pemberitaan media yang sangat gencar, maka dalam waktu yang relatif singkat, puluhan, ratusan, ribuan, d.s.t, masyarakat berduyun-duyun ke tempat Ponari. “Mau mencoba, siapa tahu….……”, begitu mungkin yang antara lain ada di benak mereka.

Memperhatikan fenomena ini, akal sehat tentu akan dengan sangat tegas melakukan penolakan. Masyarakat sudah jauh meninggalkan nalar sehatnya. Entah dengan perhitungan bagaimana, mereka tidak hanya rela mengantri begitu panjang dan melelahkan, tetapi mereka sudah sampai pada keputusan untuk mengambil air atau tanah comberan sekitar rumah pengobatan, sebagai alternatif jika tidak bertemu Ponari. Belum sempat semua isi antrian itu mendapatkan kesempatan untuk mencicipi tuah batu petir Ponari, masyarakat dihebohkan lagi atas pengakuan temuan batu serupa yang lokasinya masih tidak jauh dari desa Ponari. Bedanya, kali ini empunya adalah bocah perempuan. Betapa sudah demikian tidak terkendalinya nalar saudara-saudara kita itu. Apakah yang menyebabkan semua itu? Tekanan ekonomikah? Hilangnya kepercayaan kepada departemen terkaitkah? Ataukah karena fasilitas kesehatan yang berada di atas menara gading, hingga sulit dijangkau oleh masyarakat lapisan bawah? Atau karena faktor sosial lain? Kasihan sekali melihat apa yang mereka alami dan lakukan.

Pada suatu titik, mungkin masih wajar jika mereka perlu mencari pengobatan alternatif, baik melalui akupuntur, terapi herbal, terapi elektronik, dan aneka macam metode alternatif lainnya. Tidak sedikit kita jumpai pengobatan alternatif menjadi pertimbangan efektif dan aman, yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat ekonomi kelas bawah, tetapi juga masyarakat kelas mengah hingga atas. Dari yang tidak berpendidikan formal hingga yang berpindidikan tinggi, sundul langit sekalipun. Tetapi semuanya masih dalam batasan logika yang wajar, tidak demikian dengan mengkonsumsi air dan tanah comberan. Yang jauh lebih dikhawatirkan lagi adalah bisa terjerumusnya masyarakat ke dalam musrik, yang menganggap kesembuhannya (jika memang terjadi) adalah karena tuah dari batu petir ajaib itu, batu yang kini lengket dengan empunya, Ponari Sang Putra Petir, mungkin demikian disebutnya jika dinovelkan.

Wednesday, February 18, 2009

Normalisasi Tabel

Pada OLTP (online transaction processing), normalisai adalah suatu upaya penting yang dilakukan untuk menghindari agar tidak terjadi redundansi data yang bisa berakibat kepada anomali update. Anomali update meliputi anomali insert, anomali delete, anomali modification. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat ilustrasi dari contoh berikut :










Berdasarkan atas contoh tabel (relation, entity) di atas, data yang terkait staf dan cabang dapat direpresentasikan dalam dua cara :
1. Cukup disediakan satu tabel, yaitu StaffBranch
2. Disediakan dua tabel, yaitu Staf dan Branch

Pada tabel StaffBranch terdapat redundansi data cabang, dimana detil dari cabang terjadi pengulangan untuk setiap staf. Sebaliknya, informasi cabang hanya muncul sekali untuk setiap cabang pada tabel Branch, dan hanya branchNo yang berulang di dalam tabel Staff untuk merepresentasikan lokasi kerja staf.
Bagaimana anomali bisa terjadi pada StaffBranch?
Contoh 1 : Misalkan terjadi transaksi penambahan (insert) staf baru, maka yang dilakukan tidak cukup hanya mengisi data staf tetapi berikut data cabangnya. Jika data cabang untuk staf baru sudah ada sebelumnya, maka ada kemungkinan pengisian ulang data cabang dengan nilai yang berbeda. Dengan demikian, akan terjadi inkonsistensi data cabang.
Contoh 2 : Misalkan terjadi transaksi penghapusan data (delete) staf dan pada target record tidak terdapat pengulangan data cabang, proses akan berdampak pada hilangnya data cabang yang mestinya tidak ikut terhapus.
Contoh 3 : Misalkan terjadi transaksi perubahan/modifikasi (update) data cabang untuk data cabang yang mengalami perulangan. Proses bisa menimbulkan inkonsistensi data jika proses perubahan tidak untuk seluruh record terkait.

Untuk melakukan proses normalisasi, perlu dipahami terlebih dahulu konsep utama dalam normalisasi yaitu ketergantungan fungsional (functional dependency). Functional dependency adalah hubungan antar antribut di dalam suatu tabel. Jika A dan B adalah atribut-atribut yang ada di dalam tabel R, B tergantung secara fungsional terhadap A, jika setiap nilai A di dalam R berelasi hanya dengan satu nilai B (ditulis A → B). Dalam hal ini, A disebut sebagai determinant.
Karakteriktik dari ketergantungan fungsional pada normalisasi adalah :
1. Berelasi satu dan hanya satu (1:1).
2. Berlaku (terjaga konsistensinya) untuk kapan saja.
3. Nontrivial.
Trivial dependency adalah ketergantungan fungsional dimana non determinant tergantung pada superset. Contoh StaffNo, StaffAddress → StaffAddress adalah trivial selama StaffAddress → StaffAddress.
Selain memahai ketergantungan fungsional, beberapa jenis ketergantungan berikut ini perlu untuk diketahui :
Trivial dependency, adalah ketergantungan fungsional dimana non determinant tergantung pada superset. Contoh StaffNo, StaffAddress → StaffAddress adalah trivial selama StaffAddress → StaffAddress.
Full functional depencey, adalah ketergantungan dimana non determinant tergantung penuh pada (seluruh) determinant. Misalkan OrderNo, PoductNo → Price.
Transitive dependency, adalah suatu hubungan ketergantungan fungsional yang terjadi secara tidak langsung.Contoh A → B, B → C, maka secara tidak langsung terjadi ketergantungan A → C.

Dalam proses normalisasi, perlu juga memahami konsep beberapa tingkatan nilai kunci (key) berikut ini:
· Superkey, adalah sebuah atribuat atau sebuah himpunan atribut yang secara unik dapat mengidentifikasi record dalam tabel. Contoh informasi keahlian staf dalam tabel StaffSkill bisa memiliki superkey StaffNo, StaffAddress, Skill, atau cukup StaffNo, Skill.
· Candidate key, adalah superkey yang tidak terdapat subset yang merupakan superkey.Dari kedua contoh superkey di atas, candidate key yang tepat adalah StaffNo, Skill.
· Primary key, adalah candidate key yang terpilih untuk mengidentifikasi nilai yang unik dalam suatu tabel.
· Alternate key, adalah candidate key yang tidak terpilih menjadi primary key.
Tahapan normalisasi :
· UNF (unnormalized form), adalah tabel yang masih memiliki satu atau lebih kelompok berulang (repeating group).
· 1NF (first normal form), adalah tabel yang hanya terdapat satu dan hanya satu nilai untuk irisan baris dan kolomnya. Diperoleh dengan menghilangkan kelompok berulang pada UNF, antara lain dengan membentuk tabel baru pada kelompok yang berulang dengan menyertakan (kopi) kuncinya.
· 2NF (second normal form), adalah tabel yang seluruh non determinannya bergantung penuh (bukan subset) pada determinant, jadi tidak terjadi partial dependency. Diperoleh dengan menghilangkan partial dependency dengan membentuk tabel baru yang menyertakan determinannya.
· 3NF (third normal form), adalah tabel yang tidak terdapat hubungan transitive di dalamnya. Diperoleh dengan menghilangkan transitive dependency dengan membentuk tabel baru yang menyertakan determinannya.
· BCNF(Boyce–Codd Normal Form), adalah tabel yang memiliki persyaratan 3NF dengan tambahan batasan determinant harus candidate key.Perbedaan antara 3NF dengan BCNF adalah (misalkan untuk relasi A → B), pada 3NF B boleh sebuah atribute primary key dan A bukan candidate key, sedangkan pada BCNF untuk relasi tersebut A harus candidate key. Dengan demikian BCNF tentu 3NF, tetapi 3NF belum tentu BCNF.
· 4NF (fourth normal form), adalah tabel yang memiliki persyaratan BCNF dan non-trivial MVD(multivalued dependency). Contoh di dalam tabel BranchStaffOwner terdapat relasi MVD branchNo → StaffName, OwnerName. Antara StaffName dan OwnerName masing-masing independen. Jadi untuk 4NF bisa dikembangkan menjadi branchNo → StaffName dan branchNo → OwnerName.
· 5NF (fifth normal form), adalah tabel yang tidak memiliki join dependency.Kasus ini jarang terjadi.
· Higher normal forms.
Dalam suatu proses normalisasi kemungkinan bisa terjadi lompatan kondisi dari suatu level normal ke dua atau bahkan lebih level di atasnya. Hal ini lebih besar kemungkinannya pada tabel-tabel atau entitas-entitas memiliki relationship yang sederhana, atau dengan kata lain jumlah entitas yang terkait sedikit. Misalkan pada proses normalisasi 1NF ke 2NF telah dilakukan proses penghilangan partial dependency, dan hasilnya terbentuk relationship baru yang bisa saja sudah tidak terdapat transitive depdendency, atau bahkan sudah memenuhi kriteria level di atasnya.Namun demikian, validasi normalisasi masih penting untuk dilakukan untuk bisa lebih memastikannya.

Monday, February 16, 2009

Mengoptimalkan Kinerja Akses Basis Data

Performa akses suatu basis data dalam sistem client-server, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kualitas desain basis data, dukungan OS&DBMS (software), dukungan infrastruktur (misal hardware dan jaringan). Dari sisi desain basis data, performa akses dapat dipengaruhi antara lain oleh kualitas desain query dan penerapan mekanisme indek. Dengan demikian, untuk menghasilkan performa akses basis data yang baik, tidak hanya menjadi fokus pada fase operasional, tetapi sudah dimulai pada fase pengembangan (analysis and design). Basis data yang dihasilkan melalui metodologi analisis dan desain yang tepat, akan membantu menghasilkan performa basis data yang baik. Salah satu metodologi pengembangan basis data adalah dengan menggunakan pendekatan DBALC (database application life cycle), lebih detil mengenai siklus ini bisa dibaca antara lain pada buku Connolly, Thomas dan Begg, Carolyn. (2002). Database Systems, 3rd Edition. Addison Wesley Longman, Inc. USA. Dan ringkasannya bisa libaca di http://choirulhuda.blogspot.com/2005/12/pengantar-basis-data.html.
Sebagaimana diketahui, dalam basis data relational, setiap tabel (ralation) memiliki struktur yang tersusun atas kolom (attribute) serta baris (tupple).Beberapa litaratur menyebut field, member untuk kolom, dan record untuk baris. Proses pembacaan suatu tabel dalam basis data, perlu menyertakan kolom dan baris yang dibutuhkan. Structured query language (SQL) untuk membaca data yang hingga saat ini dipakai adalah sebagai berikut :
SELECT [DISTINCT ALL]
{* [columnExpression [AS newName]] [,...] }
FROM TableName [alias] [, ...]
[WHERE condition]
[GROUP BY columnList] [HAVING condition]
[ORDER BY columnList]

Statemen query tersebut, prinsip dasarnya bekerja sebagaimana model relational algebra yang terdiri dari projection dan selection. Projection adalah mekanisme untuk memilih kolom-kolom tertentu pada relation sesuai kebutuhan, sedangkan selection adalah mekanisme pemilihan baris tertentu sesuai kebutuhan. Projection dan selection perlu diperhatikan pada saat mendesain sebuah query yang diinginkan agar performa akses data menjadi lebih baik, terlebih jika menggunakan beberapa tabel atau bahkan sub query.
Selain perlu memperhatikan desain query, performa akses basis data juga dapat dipengarui oleh adanya mekanisme indek. Mekanisme akses data dengan bantuan indek, secara sedehana dapat dianalogikan dengan suatu proses pencarian buku dalam rak melalui pembacaan katalog terlebih dahulu. Dari katalog bisa diperoleh lokasi yang lebih tepat keberadaaan buku yang diinginkan. Untuk kasus yang umum, pencarian buku dengan bantuan katalog tentu akan lebih cepat dibandingkan pencarian langsung ke rak penyimpanan. Dengan analogi tersebut, maka akses data langsung ke suatu tabel (table scan) akan memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan akses melalui indek (index scan), karena fungsi indek tersebut dapat dianalogikan sebagaimana fungsi katalog pada proses pencarian buku.
Pada fase operasional, performa akses basis data masih perlu untuk terus dipelihara, meliputi antara lain pengaturan kembali indek (reindex), defragmentasi tabel dan indek, melakukan backup untuk record yang sudah tidak diakses lagi kemudian dihapus dari basis data yang selanjutnya bisa di-restore jika diperlukan. Umumnya DBMS (database management sytems) sudah menyediakan perangkat untuk membantu database tuning, yang tujuannya adalah untuk menjaga performa basis data untuk menjadi lebih baik. Selain itu, dari sisi DBMS perlu secara berkala melakukan patching pada DBMS, sesuai perkembangan terkini. Jika segala strategi tuning di atas masih belum signifikan untuk mendongkrak performa basis data, bisa jadi memang sudah waktunya untuk upgrade hardware ataupun menata kembali sistem jaringan yang terkait. Terkait hardware, perlu sekali diperhatikan umurnya, terutama harddrive, mengingat perangkat keras ini terhitung paling rentan, terlebih jika telah cukup lama dipakai secara terus-menerus.

Tuesday, February 03, 2009

Berkompromi Dengan Dingin

Di pagi yang masih berselimut dingin, makin terasa lebih dingin saat tiba di kantor sendirian dengan ruang ber AC sentral. Dingin ini benar-benar menusuk meskipun jaket jean butut masih belum terlepas. Maklum, saat ini adalah puncak musim hujan, dan kemarin adalah hari raya Imlek. Seperti sebuah takdir, setiap hari raya Imlek hampir selalu disertai dengan guyuran hujan, bahkan guyuran itu masih berlangsung pagi ini. Konon, menurut yang meyakininya, hal itu merupakan berkah. Jam di dinding masih menunjukkan angka 50 menit menuju awal jam kerja, tetapi sebagaimana biasanya, perkerjaan saya mulai lebih awal. Mengambil hasil backup data yang berjalan semalam adalah kegiatan pertama yang perlu dilakukan. Saat proses transfer data berlangsung, saya coba menghangatkan diri dengan "Googling", sekedar mengisi relung kecil isi otak kanan, agar tidak ikut menggigil terlebih membeku.Kadang seperti sebuah perjalanan tanpa arah, tidak terlalu jelas, ingin mencari dan mengoleksi bacaan apa hari ini? Database, Information Systems, Programming, atau sekedar koleksi Novel? Otak kiri atau otak kanankah yang harus diisi? Saya biarkan kebimbangan itu berlangsung paralel dengan terbukanya mesin pencari google. Saat halaman itu terbuka penuh, sepertinya isi otak kanan telah mengiang lebih lantang di kepala. Maklum, beberapa hari ini, saat baca salah satu harian pagi nasional sebelum berangkat kerja, isinya selalu mengupas pro dan kontra proyek pembangunan PIM (Pusat Informasi Majapahit). Simpul-simpul syaraf kepala ini ternyata masih aktif akan tema itu, maka spontan saat menu item searching itu muncul, terketiklah “ebook Majapahit”.

Berseluncur di dunia maya tak ubahnya berseluncur di dunia nyata. Kadang ada yang hitam, kadang abu-abu, kadang putih, atau warna-warna lain yang ikut muncul. Kecepatan seluncur tiba-tiba melambat saat sekilas terlihat di seberang ada kepingan-kepingan kata "Majapahit", "Novel", "eBook", "Endik", "Wonosalam", "Jombang", dan yang membuat perjalanan makin terhanti adalah munculnya serpihan kata "Gratis".Ibarat sedang berkendara, seketika rem tangan dan kaki langsung bekerja. “Cuiitttt…!”, pengereman itu agaknya seidkit mendadak, dan berhentilah pencarian pada suatu alamat, lalu berusaha belok ke arah itu untuk lebih jauh menelusuri isinya. Saat masuk lebih dalam, terbukalah lebih gamblang isi halamannya, dan ternyata benar-benar tersedia ebook gratis, tetapi bukan tentang Majapahit. Haluan sudah terlanjur masuk dan terjebak oleh kepetingan otak kanan, maka saat tertera bahwa novel tersebut boleh diunduh oleh penulisnya sendiri, maka “Ciauuuwwww!!!!!”, “Just do it…!”, “Right now…!”.”Permisiii…….,Kulo nuwun,...Sampurasun.....!”.

Selang beberapa saat, proses unduhpun komplet, sementara di layer lain, proses transfer data backup pun sudah selesai.Waktu masih jauh dari jam 9, mumpung proses unduh lagi “mak nyusss…”, perjalanan dilanjutkan ke alamat dikti, untuk mengunduh tabel dosen. Tabel itu diperlukan untuk pekerjaan EPSBED hari ini.
Ampuh, demikian yang bisa disimpulkan. Aktifitas ringan ini ternyata mampu mengurangi pengaruh tekanan udara dingin di pagi hari.Simpul-simpul syarat terasa masih tersadar bahkan ikut menghangat, sehangat pengaruh kopi kental dengan sedikit gula yang kuminum pagi-pagi tadi.

Jujur, diri ini mungkin termasuk dalam salah satu kelompok yang belum mampu memberikan penghargaan yang layak bagi para penulis. Dikatakan demikian karena interes yang tinggi akan buku-buku digital (ebook) gratisan, termasuk novel, yang bermutu tentunya. Namun demikian, semua ebook itu hanyalah untuk konsumsi pribadi, tidak untuk diperjualbelikan.Bahkan sejauh ini, sekedar menyebarkan pun saya hindari. Untuk meringkankan "dosa" itu, beberapa buku (novel) saya coba beli versi cetakannya.Tentu jika ada sisa belanja untuk susu anak-anak.Maklum, di negeri yang tumbuh subur karya-karya (seninya) ini, kurang diimbangi dengan kesempatan menikmati karya-karya (seni) bagi orang-orang berduit cekak. Ini lantaran harga buku yang sulit terjangkau bagi lapisan bawah.Padahal, dari buku kita bisa banyak belajar dan mengambil hikmah. Bahkan tidak sedikit karya-karya hebat jadi ikut terperosok masuk perangkap hukum supply-demand, makin banyak peminatnya, makin melejit harganya, hingga ke ujung menara gading. Orang-orang kecil hanya bisa menengadah dan ngiler, atau bagi yang sudah “gila”, bisa merelakan anak-anaknya tidak minum susu lagi, setidaknya kualitas susunya akan down-grade.

Di sisi lain, penulis memang perlu mendapatkan penghargaan, karena mereka juga manusia yang memiliki kebutuhan-kebutuhan, disamping juga tidak menutup kemungkinan masih memiliki keinginan-keinginan.Oleh karena itu, jalan tengah perlu diambil, jika tersedia gratis ya ambil, jika tidak maka harus menunggu kesempatan untuk bisa membeli versi cetaknya.Kompromi dengan kebutuhan pribadi, kebutuhan penulis, serta kebutuhan keluarga adalah jalan tengah yang perlu diambil untuk masa seperti ini.

Salut dan terima kasih perlu saya sampaikan buat novelis muda, pendatang baru, Endik Koeswoyo, yang telah merelakan beberapa karyanya untuk diunduh secara gratis. Semoga bisa terus berkarya dan berjaya sebagaimana idola-idolanya, dan turut serta menghangatkan isi otak kanan para pembaca dengan karya-karya yang bermutu. Banyak penulis sudah berada pada puncak ketenarannya, dan saya melihat Endik punya potensi ke arah sana, meskipun saat ini masih pada masa “Growth”.Menyebarkan ebook semacam ini adalah salah satu usaha yang tepat untuk membangun "Brand", setidaknya untuk saat ini menurut orang awam semacam saya.

Saturday, January 31, 2009

Ingin Cantik

Di salah satu lereng gunung Kampud yang oleh banyak orang disebut juga gunung Kelud, terdapatlah sebuah air terjun yang di bawahnya terbentuk sendang dengan pemandangan yang sungguh sangat indah dan mempesona. Konon, di sendang itu sering nampak bidadari dari langit turun ke bumi untuk mandi, terutama pada bulan purnama. Dahulu di sekitar sendang terdapat banyak sekali angsa, sehingga air terjun itu disebut juga air terjun seribu angsa. Berdasarkan dongen yang beredar di tengah masyarakat, menyebutkan bahwa barang siapa yang sanggup mandi di sendang dengan terjun terlebih dahulu dari atas lereng gunung maka dia akan cantik (jika wanita) atau tampan (jika pria) sesuai dengan kecantikan atau ketampanan yang didambakannya. Syaratnya adalah saat terjun sambil membayangkan dan berteriak menyebut nama seseorang atau idolanya. Dongen itu ternyata menarik perhatian tiga orang gadis yang ingin segera membuktikannya, karena mereka berharap ingin memiliki wajah cantik sebagaimana idolanya.

Suatu ketika mereka bertiga pergi berkunjung ke sendang gunung Kampud. Saat tiba di salah satu sudut sendang, mereka langsung mendaki ke atas lereng untuk melakukan terjun bebas. Ketika sampai pada suatu lokasi penerjunan yang memadai, mereka berunding terlebih dahulu untuk menentukan giliran penerjunan.

Gadis pertama sudah ambil ancang-ancang dengan mengambil jarak sekitar sepuluh meter dari bibir tebing agar lompatanya bisa tepat ke tengah sendang, atau setidaknya saat jatuh berada pada kedalaman yang cukup. Gadis pertama memiliki perangai yang periang dan pemberani. Oleh karenanya, saat teman-temannya gamang untuk terjun dahulu, dia justru memutuskan untuk memberikan contoh yang pertama. Sambil ancang-ancang, gadis pertama membayangkan wajah artis pujaannya. Begitu konsentrasi sudah dirasa cukup, maka dengan lari kencang lalu terjuan bebas sambil berteriak “Maddoonaaaaaaaa!”, “Byuuuurrrrrrrrrrr!”. Dan seketika dari dalam air, di tengah buih yang ditimbulkan, gadis itu muncul dengan wajah baru seperti artis idolanya, Madona. Kedua temannya yang turut menyaksikan kejadian tersebut dari atas tebing bersorak gembira, yang mengakibatkan keduanya sudah tidak sabar lagi untuk terjun.

Kini giliran gadis kedua yang sudah mulai ambil ancang-ancang. Gadis kedua itu meskipun sedikit pemalu, tetapi memiliki keberanian yang luar biasa meski tak seperti gadis yang pertama. Saat konsentrasi sudah dirasa cukup, dan tentu harus sambil membayangkan dan menyebut nama idolanya, dia berlari kencang lalu terjun sambil berteriak “Sandra Dewiiiiiiiiii!”, “Byuuuurrrrrrrrrrr!”. Tidak seberapa lama dari dalam air, di tengah buih yang ditimbulkan, gadis kedua muncul dengan wajah seperti Sandra Dewi.

Kedua temannya, baik yang berada di bawah maupun yang di atas bersorak turut gembira. Dengan terpenuhinya keinginan kedua temannya, membuat optimisme gadis ketiga melonjak naik hingga ke ujung atas ubun-ubun. Gadis yang ketiga ini terhitung suka latah dan penakut, maka saat tertinggal sendiri di atas dengan keadaan yang sunyi itu, menjadikan konsentrasinya terganggu. Sebelum berlari, masih sempat tengak-tengok kanan kiri seolah pohon yang rindang itu menjelma menjadi suatu wujud yang mengerikan. Akan tetapi, tekad sudah bulat, dia harus segera berlari dan terjun agar keinginanya tercapai juga. Saat berlari kencang dengan konsentrasi yang terganggu, dia tidak menyadari bahwa tidak jauh dari bibir tebing terdapat sebuah batu yang jika tidak hati-hati maka akibatnya bisa celaka. Dan ternyata benar, gadis ketiga itu karena terganggunya konsentrasi dan sifatnya yang latah, dia tersandung batu itu sambil berteriak spontan “Monnyyeeeeetttttt!”, lalu terjatuh dan terpelantinglah dia ke sendang dengan posisi tidak beraturan, “Byuuuurrrrrrrrrrr!”. Tak lama kemudian, muncullah seekor monyet dari dalam air.
Lesson learn :
  • Gunakanlah akal sehat dalam menghadapi segala situasi, dan yang terpenting lagi, bersyukurlah atas segala karunia yang telah Tuhan berikan.

Tuesday, December 23, 2008

Tiga Karung Beras

Sumber : dari sebuah milis
Sebuah penghormatan terhadap kaum perempuan, terutama seorang Ibu.
Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut. Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya". Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi." Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi." Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku..................


Demikianlah representasi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Tiada suatu balasanpun yang setimpal dari seorang anak atas kasih tulus ibunya. Doa dan penghormatan adalah sebatas kemampuan yang bisa kita lakukan untuknya sepanjang hayat kita masih di badan.

"Kasih Ibu sepajang masa, kasih anak sepanjang galah." - Pepatah lama.

Suatu ketika seorang sahabat (S) bertanya pada Nabi Muhammad (N):
S :“Wahai Rosululloh siapa yg lebih saya hormati di dunia ini?”
N: “Ibumu.”
S : “Lalu siapa lagi Nabi?”
N: “Ibumu.”
S : “Lalu Siapa Lagi?"
N: “Ibumu.", baru kemudian "Bapakmu.”

"Dibalik kesuksesan atau kegagalan seorang pria, di situ terdapat perempuan." - Shakespeare.


"Ibu" - Iwan Fals :
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara...
kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....

Tuesday, December 02, 2008

Cerita untuk Anak : Apakah Seleksi Alam Itu?

Sumber : http://www.harunyahya.com/
Penjelasan paling sederhana untuk seleksi alam adalah bahwa makhluk yang paling kuatlah yang akan selamat, sementara makhluk yang lemah akan menghilang. Mari jelaskan ini dengan sebuah contoh: bayangkan sekelompok rusa, yang kerap diserang oleh binatang-binatang buas. Ketika serangan itu terjadi, rusa akan berlari kencang, dan hanya rusa yang paling tangkas dan lari paling cepatlah yang akan selamat. Pelan-pelan, rusa yang lemah dan lamban akan sepenuhnya menghilang, karena para pemangsa berhasil memburu mereka. Hanya tertinggal kini rusa-rusa yang sehat dan kukat. Karena itu, setelah beberapa waktu, kumpulan itu hanya akan terdiri dari rusa-rusa yang kuat.

Apa yang sudah kita katakan sejauh ini sungguh-sungguh benar, namun hal-hal ini tidak berkaitan dengan evolusi. Bertentangan dengan hal ini, para penganut teori evolusi yakin bahwa sekumpulan rusa seperti itu dapat pelahan berkembang menjadi jenis hewan lain, jerapah misalnya. Kalian bisa melihat betapa kelirunya mereka! Tak peduli seberapa cepat seekor rusa berlari, atau seberapa jauh ia memanjangkan lehernya ke atas, rusa itu tidak dapat berubah menjadi binatang lain, seperti seekor singa atau jerapah. Perubahan seperti ini hanya terjadi dalam dongeng-dongeng saja. Kalian mungkin mengetahui kisah tentang kodok yang berubah menjadi seorang pangeran. Satu-satunya cara (THE ONLY TIME) kodok dapat berubah menjadi seorang pangeran hanya ada dalam dongeng. Bagaimanapun, dalam kehidupan nyata, tidaklah mungkin seekor rusa berubah menjadi seekor singa atau makhluk hidup lainnya. Kendati demikian, para penganut teori evolusi tetap berkeras bahwa binatang-binatang itu dapat melakukannya!

Lesson Learn :
· Seleksi alam menjadikan makluk hidup semakin kuat tetapi tidak menjadikannya makluk hidup lain.
· Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya dengan suatu kesengajaan.

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Baqarah, 2:32)

World Cup 2010

Sepak bola (World Cup 2010) hanya sebuah aktifitas yg dimainkan di area panjang 100-110m x lebar 64-75m, tetapi magnetnya bisa menghisap rat...