Wednesday, April 30, 2008

Modular Programming

Konsep

  • Program dibagi-bagi menjadi bagian-bagian (modul-modul) yang lebih kecil.
  • Seluruh modul adalah suatu kesatuan untuk menyelesaikan suatu tugas.
  • Modul dibentuk dengan mengelompokkan sejumlah perintah untuk menyelesaikan tugas tertentu.
  • Modul diperlukan jika kelompok perintah tersebut kerap kali digunakan di tempat lain dalam program.
  • Modul sering disebut juga dengan Sub-Program.

Keuntungan menggunakan modul

  • Rancangan Top-Down dengan teknik Sub Goal, program besar dapat dibagi menjadi lebih kecil.
  • Dapat dikerjakan oleh lebih dari satu orang dengan koordinasi yang relatif mudah.
  • Mencari kesalahan relatif lebih mudah karena alur logika lebih jelas, dan kesalahan dapat dilokalisir dalam satu modul.
  • Modifikasi dapat dilakukan, tanpa menggangu program secara keseluruhan.
  • Mempermudah dokumentasi.

Sifat-sifat modul yang baik

  • Fan-In yang tinggi, yaitu makin sering suatu modul dipanggil oleh pengguna, makin tinggi nilai fan-in.
  • Fan-Out yang rendah, makin sedikit tugas yang dilakukan oleh suatu modul makin rendah nilai fan-out. Dengan demikian, makin spesifik tugas yang dikerjakan oleh modul tersebut.
  • Self-Contained, atau memenuhi kebutuhannya sendiri.

Implementasi

  • Implementasi konsep modular dalam bahasa pemrograman dikenal dengan berbagai cara. Pada Pascal tersedia dalam bentuk fungsi dan prosedur, sedangkan pada C cukup dengan fungsi.
  • Implementasi modular programming bisa juga diterapkan pada saat abstraksi tipe data (lebih lanjut bisa dibaca pada arikel di blog ini yang berjudul “Tipe Data”, dimuat pada tanggal 17 Desember 2005).
  • Contoh pembagian program menjadi beberapa subprogram :


Algoritma

Definisi
• Algoritma adalah sekumpulan langkah-langkah terbatas untuk mencari solusi suatu masalah.
• Berasal dari kata algoris dan ritmis. Diperkenalkan oleh Abu Ja’far Muhammad Musa Al-Khowarizmi (780-850) dalam bukunya yang berjudul Kitab Al Jabr Waal Muqobala (Rules of Restoration and Reduction).
• Pada pemrograman, algoritma didefinisikan sebagai metode yang terdiri dari langkah-langkah terstuktur untuk mencari solusi suatu masalah dengan bantuan komputer.

Syarat Algoritma
Menurut Donald E.Knuth sebuah algoritma harus memenuhi persyaratan :
• Finiteness.
Algoritma harus berakhir (terminate) setelah melakukan sejumlah langkah proses.
• Definiteness.
Setiap langkah algoritma harus didefinisikan dengan tepat dan tidak menimbulkan makna ganda(ambiguous).
• Input.
Setiap algoritma memerlukan data sebagai masukan untuk diolah.
• Output.
Setiap algoritma memberikan satu atau lebih hasil keluaran.
• Effectiveness.
Langka-langkah algoritma dikerjakan dalam batas waktu yang wajar.

Jenis Proses Algoritma
Langkah-langkah yang membentuk suatu algoritma dapat dibagi menjadi tiga kelompok proses :
• Sequence process.
Sederetan instruksi dijalankan secara berurutan dari awal hingga akhir.
• Selection process.
Instruksi atau sederetan instruksi dijalankan jika kondisi tertentu terpenuhi.Contohnya adalah siswa dinyatakan lulus mata kuliah jika nilainya minimal 60.
• Iteration process.
Instruksi atau sederetan instruksi dijalankan secra berulang jika kondisi tertentu terpenuhi. Contohnya adalah siswa harus mengambil mata kuliah selama nilainya di bawah 60.

Tahap Pengembangan Algoritma

Penulisan (penyajian) Algoritma
• Tulisan, seperti : Structure English, Pseudocode.
Contoh Algoritma "Penggunaan Kalkulator"
Mulai
.....Nyalakan kalkulator
.....Kosongkan Kalkulator
.....Ulangi
..........Input harga
..........Tekan tombol Plus (+)
..........Sampai semua harga diinput
.....Tampilkan total harga
.....Matikan kalkulator
Selesai

• Gambar, seperti : Flow Chart.
Contoh Algoritma "Penggunaan Kalkulator"





















Referensi :
• Deitel, H.M. and Deitel, P.J. (2001). C HOW TO PROGRAM. 3rd edition. Prentice Hall, NJ.
• Ngoen. Th. S. (2004). Pengantar Algoritma dengan Bahasa C. Penerbit Salemba Teknika.

Tuesday, April 22, 2008

Zhang Da

Sumber : Kompas, Sabtu, 22 Juli 2006
Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka mereka pun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional ke seluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da. Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luar biasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China. Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah. Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.
ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.
Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.
Zhang Da menyuntik sendiri papanya.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, "Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu". Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!" demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap. Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.
Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya... ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan... . bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya. ....... Kesulitan memberi pembelajaran bagi setiap orang Tergantung orang tersebut memilih jalan hidupnya Tetap berdiri dan berusaha membuat segala sesuatu menjadi lebih baik atau memilih jalan kehancuran.. . Semua kembali pada diri pribadi masing-masing

Tuesday, April 15, 2008

Anak

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
(QS:Al Kahfi-46).

=================================================

Anakmu bukan milikmu
Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, namun bukan hakmu

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu.

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat jauh, serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

(Kahlil Gibran)


Friday, April 11, 2008

Surat Wasiat

Sumber : Translate dari Budhi Santoso.
Mbak Jo, sebut saja begitu namanya, sedang dirawat di rumah sakit. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Mbah Jo terkena serangan asma kronis, sehingga perlu bantuan oksigen yang dialirkan melalui selang ke hidungnya.Sudah beberapa hari ini Mbah Jo dalam kondisi koma. Hanya terkadang matanya berkedip-kedip sebagai isyarat komunikasi.Karena ingin meringankan beban ayahnya, anaknya Mbah Jo memanggil modin untuk mendoakan Mbah Jo.Tiba waktunya modin di samping Mbah Jo, langsung membaca doa. Saat sedang membaca doa, Mbah Jo terlihat terengah-engah nafasnya,mukanya pucat dan tangannya gemetar.Dengan bahasa isyarat Mbah Jo sepertinya ingin menulis sesuatu. Anaknya mengerti isyarat tersebut maka langsung mengambilkan kertas dan pensil.Masih dalam kondisi terengah-engah Mbah Jo menulis pesan pada secarik kertas.Dan dengan sisa-sisa tenaga memberikan secarik kertas tsb ke modin."Rasanya kok tidak etis membaca surat wasiat di saat-saat seperti ini" kata modin dalam hatinya saat menerima secarik kertas dari Mbah Jo.Karena pertimbangan itu maka kertas itu untuk sementara dimasukkan ke kantong bajunya dan melanjutkan doa lagi. Tidak lama kemudian, Mbah Jo menghembuskan nafas terakhir. Semua yang hadir disitu bersedih dan menangis, terutama anak Mbah Jo. Berusaha untuk menenangkannya, modin berucap "Meskipun semasa hidup Mbah Jo dikenal sangar, tapi hatinya baik.Banyak nasehat yang selalu dia berikan.".Sebagaimana tradisi di tempat Mbah Jo, setelah tujuh hari meninggal, diadakan acara doa bersama untuk almarhum dengan mengundang para tetangga dan kerabat, termasuk modin sebagai pemimpin doa. Setelah acara doa selesai, modin teringat kalau di dalam kantong baju yang dia pakai saat ini ada secarik kertas dari Mbah Jo yang belum sempat dia baca saat sakarotul maut."Waduh....untung saya ingat. Kan ada wasiat dari almarhum yang perlu dibaca." pikir modin."Hadirin sekalian, ada surat dari almarhum Mbah Jo yang belum sempat saya sampaikan ke hadirian sekalian.Kalau melihat semasa hidupnya, sepertinya isi surat tersebut adalah nasehat untuk anak dan cucu-cucunya. Mari kita baca bersama-sama isi suratnya." kata modin.Tidak berselang lama modin mengeluarkan secarik kertas dari kantong bajunya, sambil dibaca ternyata bunyinya "He...modin...! Jangan berdiri di situ. Kamu nginjak selang oksigenku!!!".

Musibah


Oleh: A. Mustofa Bisri


Dulu, ketika kita mendengar ada badai hebat di Amerika, Bangladesh, hingga Filipina; banjir meluap di Tiongkok, Brazil, hingga Korea; gempa dahsyat di Rumania, Meksiko, hingga Jepang; kapal tenggelam di Inggris, Italia, hingga Rusia; kecelakaan kereta api di Argentina, Skotlandia, hingga Jerman; kecelakaan pesawat di Turki, Prancis, hingga Sri Lanka; kebakaran hutan di Amerika, Tiongkok, hingga Australia; ledakan di Irlandia, Iraq, hingga Pakistan; pertumpahan darah di Timur Tengah, India, hingga Afghanistan; dan musibah-musibah lain yang terjadi di berbagai belahan dunia, setiap kali kita hanya sebentar ikut prihatin, lalu diam-diam atau terang-terangan merasa lega dan bersyukur bahwa tempat-tempat musibah tersebut jauh dari kita.
Sekarang, ketika musibah-musibah itu, plus musibah lumpur panas, secara beruntun terjadi di tanah air, masih juga banyak orang yang jauh dari tempat musibah bereaksi sama. Ikut prihatin sebentar, lalu diam-diam atau terang-terangan bersyukur bahwa bukan mereka yang terkena. Karena beruntun, setidaknya dalam dua tahun belakangan, banyak pula yang terusik dan bertanya-tanya: Ini ada apa? Ini cobaankah, peringatan, atau siksa dari Tuhan? Memang, ada beberapa ayat suci yang jelas-jelas menyatakan bahwa musibah dan kerusakan adalah akibat ulah manusia (misalnya, Q.4: 62; 28: 47; 30: 36, 41; 42: 48). Namun, dalam menjabarkan ayat-ayat itu, berbeda-beda hujah orang. Ada yang dengan nada keminter menyalahkan pihak-pihak selain dirinya. "Alam itu memiliki karakter yang tetap," katanya; "Gunung, laut, angin, dsb sama saja tidak pernah berubah. Jadi, bisa dipelajari. Seharusnya para ilmuwan dapat memberikan masukan informasi kepada pemerintah dan masyarakat. Semestinya pemerintah sudah mengantisipasi gejala-gejala alam itu. Apa kerja Badan Meteorologi dan Geofisika itu?" Dari mereka yang suka menyalahkan itu, ada yang lucu; menyalahkan presiden yang dianggap membawa sial dan seharusnya diruwat. Ada pula yang agak memper, menyalahkan orang-orang yang suka merusak alam. Menurut mereka, alam marah kepada manusia yang terus-menerus melukainya. Bukan hanya manusia yang bisa kecewa, marah, demo, dan ngamuk. Alam pun bisa. Ada yang lebih kehambaan dengan mengakui bahwa semua ini akibat dosa masal terhadap Tuhan pencipta manusia dan alam. Dosa kita semua. Jadi, tidak relevan dan sia-sia apabila hanya saling tunjuk, menganggap pihak lain saja yang berdosa, seolah-olah masing-masing merupakan wakil Tuhan. Semua aturan Tuhan dilanggar beramai-ramai. Diangkat menjadi khalifah di kehidupan di dunia, tidak merawat dan mengelolanya secara baik, malah merusaknya. Mereka yang merasa benar tidak mau membenarkan, malah hanya menyalah-nyalahkan. Mereka yang berkesempatan berkorupsi tidak ditutup kesempatannya berkorupsi, malah dipupuk dan diberi peluang. Hukum yang seharusnya menata malah ditata. Penegak hukum yang melencengkan hukum tidak dibantu menegakkan, malah didorong untuk terus melencengkannya. Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua merajalela. Amuk di mana-mana. "Karena dosa masal, untuk menghentikan hajaran Tuhan ini, tiada lain kita semua mesti melakukan tobat masal," kata sohibul pendapat itu. Saya sependapat dengan pikiran tersebut karena saya sendiri juga melihat kenyataan perikehidupan kita yang seperti itu. Saya setuju dan mendukung anjuran tobat masal, tapi tidak dengan pengertian yang sederhana. "Hanya" ramai-ramai istighotsah secara seremonial, nangis-nangis minta ampun kepada Tuhan, lalu sudah. Tobat yang saya dukung adalah tobat yang sesungguhnya. Masing-masing mengidentifikasi kesalahan sendiri dan menyesalinya, lalu bertekad tidak mengulangi. Mereka yang merasa pernah merampas hak orang lain segera mengembalikan atau meminta ikhlas dari pihak yang terampas. Misalnya, pejabat yang pernah mengorupsi harta rakyat, segeralah mengembalikan. Atau, jika telanjur habis termakan, mengadakan konferensi pers untuk memohon keikhlasan dari rakyat. Mereka yang pernah atau sering nyogok atau menerima sogok, segera berhenti dan berjanji tidak akan mengulangi. Mereka yang karena memiliki kelebihan, baik berupa kekayaan, kepintaran, maupun kekuasaan, hendaklah segera menyadari bahwa itu semua adalah anugerah Tuhan yang seharusnya disyukuri, bukannya dijadikan alasan untuk angkuh serta merendahkan orang lain. Mereka yang suka memutlakkan pendapat dan kebenaran sendiri hendaklah segera menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah dan mulai belajar menghargai pendapat orang lain. Demikian seterusnya. Kemudian, baru dengan tulus dan khusyuk memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengampun. Kesalahan-kesalahan yang telanjur dilakukan karena kebodohan serta kecerobohan harus diakui dan diusahakan memperbaiki dengan belajar atau menghindarinya sama sekali. Misalnya, karena pengetahuan kita mengenai bencana alam dan penanganannya masih minim, kita harus mengakui dan belajar. Misalnya, karena nasib baik atau KKN, seseorang diangkat dan diserahi tugas yang tidak begitu dikuasainya, lalu timbul kesalahan, dia bisa memperbaiki dengan belajar. Tapi, bila tugas tersebut sama sekali di luar kemampuannya, segera saja mundur. Sebab, kesalahannya akan beranak-pinak. Karena itu semua adalah pendekatan kehambaan, kuncinya adalah kerendahhatian. Tanpa sikap rendah hati, tobat akan sia-sia belaka. Waba'du, meskipun wadag kita dari lumpur, tidak seharusnya kita bersikap seperti lumpur Porong yang seenaknya sendiri, merusak ke sana kemari, susah diatur, tidak jelas maunya. Sebab, dalam wadag kita, Allah meletakkan cahaya penerang: akal dan hati nurani.

Thursday, April 10, 2008

Mandikan Aku Bunda

Sumber : eMail berantai
Terlepas dari fiksi atau bukan cerita di bawah ini, terdapat hikmah yang bisa kita ambil darinya.
Silakan membacanya.
---------------------------------------------------------------

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawankuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealismetinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinyasudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademismaupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not thebest,'' katanya selalu, mengutip seorang mantanpresiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studiHukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda,Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilihmenuntaskan pendidikan kedokteran.Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel'';sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkatsebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnyasuami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.Konon, nama putera mereka itu diambil dari hurufpertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'',jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya taksempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannyasebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan,kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaristiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dandari satu negara ke negara lain.Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alifterlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?'' Dengan sigapRani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segalasesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itubetul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatiananaknya, ditangani secara profesional oleh baby sittermahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewattelepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepadacucu semata wayang itu, tentang kehebatanibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentangnaik pesawat terbang, dan uang yang banyak.''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.''Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan diakhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau diaminta adik. Terkejut dengan permintaan tak terdugaitu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertiananaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untukmenghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocahkecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kataRani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknyamewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meskikedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekalingambek.Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambutkedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Ranimenyapanya ''malaikat kecilku''.Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski keduaorangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuhcinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entahmengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alifingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuansaja Rani, yang detik ke detik waktunya sangatdiperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alifsambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkankeperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alifagar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meskiwajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda,mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan.Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karenaAlif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebihminta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alifbisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien,sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dankejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengahterbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikatkecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikankantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah,satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memangmenyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknyasendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelahtubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bundamandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yangsunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir darisampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kamimasih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kaliRani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudahtakdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupundi seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergijuga kan?'' Saya diam saja.Rasanya Rani memang takperlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematungseperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannyakosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjutRani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak.Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunyahisteris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali inisaya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisanyang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikanAlif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekalisaja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detikberikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yangmenaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

World Cup 2010

Sepak bola (World Cup 2010) hanya sebuah aktifitas yg dimainkan di area panjang 100-110m x lebar 64-75m, tetapi magnetnya bisa menghisap rat...