Menjadi hikmah
Sudah lama halaman ini alpa dari isian yang baru, di saat bersamaan hasrat ingin menumpahkan gejolak dari dalam batok kepala sudah tak tertahan begitu kaki turun dari kereta. Perjalanan semalam sudah cukup untuk mengendapkan apa yang telah terjadi. Batok kepala dengan ukuran fisik tak lebih dari sebuah biji kelapa, terasa tidak nyaman lagi menampung segala benak yang ada di dalamnya. Meski tersedia di dalamnya anugrah luar biasa, sehingga dengan ukuran itu mampu merekam data audio visual entah berapa terra byte, hanya dalam masa rehat ini saja, namun demikian, suhu di dalamnya sudah dalam batas toleransi. Berbagai macam persoalan yang notabenya adalah hadiah (Insya Allah), semoga mampu menjadi hikmah. Sebagaimana air, semoga akan lebih bermanfaat jika dapat dialirkan kembali ke wadah yang telah disediakan, sebaliknya mengendap hanya akan menimbulkan wabah penyakit. Biarlah semuanya tertuang kemudian mengalir menuju kodrat yang semestinya memang harus dilalui, sebagaimana air mengalir menuju arah yang tak pernah salah. Kalaupun suatu ketika air tertuduh salah arah, sebenarnyalah dia hanya mengikuti kodrat semata.
Hulu ke hilir
Hikmah yang dapat disimpulkan bahwasanya hidup memang seperti perjalaan air dari hulu ke hilir. Kadang air mengikuti alur yang sedari dulu sudah demikian adanya, atau kadang mencari jalan baru. Tetapi intinya sama, ada proses perjalanan menuju arah yang sama, meski suatu ketika arus harus terbelah dengan berbagai macam arah dan ukuran, namun kodratnya menuju hilir. Air hanya mengikuti arus dalam kodratnya, dan tidak akan iri dengan belahan arus yang ada di seberang lainnya. Dikatakan selokan karena memang ukurannya, pun juga dengan bengawan. Selokan tak mengiri terhadap bengawan karena pada hakekatnya mereka akan diketemukan, pun demikian bengawan tidak akan menyombongkan diri karena bengawan asalnya adalah selokan. Gambaran hidup nyatanya juga demikian. Tersedia beragam ukuran dalam proses perjalanannya, kita hanya patut mensyukurinya. Apa jadinya jika selokan mengiri pada bengawan, atau sebaliknya, maka bencana wujudnya, entah banjir atau kekeringan.
Jaringan
Apapun itu wujudnya, dari selokan sampai bengawan, tidaklah mereka berdiri sendiri, melainkan terikat satu dengan lainnya dalam jaringan. Bengawan hanya sia-sia menambah kapasitasnya jika tidak terkait dengan saluran lain yang memadahi. Selokanpun sama. Semua aliran akan hidup(mengalir) jika terkait dan saling bekerja sama sesuai kapasitasnya. Akan tidak indah jika semua aliran adalah selokan, atau semua aliran adalah bengawan. Dalam konsep network flow di Data Structure, manfaat akan diperoleh lebih banyak jika terjadi maximum flow dengan meminimalkan residu. Menambah kapasitas di salah satu pihak hanya akan sia-sia dalam aliran(hidup) jika tidak memperhatikan maximum flow. Hidup akan banyak bermanfaat jika dapat memaksimalkan manfaat (buah) kepada yang lain, tidak sekedar melebatkan daun tanpa makna lebih. Bukankah manusia biasa yang mampu menghasilkan maha guru pun akan lebih baik dibanding maha guru yang hanya menghasilkan manusia biasa? Selokan yang berhimpun dengan selokan lainya mampu bermetamorfosis menjadi bengawan, sebaliknya bengawan yang hanya menghasilkan selokan adalah pertanda bahaya. Bersyukur memang bukan berarti pasrah atas kapasitas yang ada, sebagaimana kapasitas aliran perlu juga diperbesar, tetapi tetap perlu memperhatikan keseimbangan hulu dan hilir.
Isi
Bicara aliran air tentu melibatkan isinya, air itu sendiri. Air kadang jernih, keruh, atau bahkan berlimbah. Aliran sudah dikodratkan, isi kita yang ikut menentukan. Selama panjang perjalanan air itu, jernih, keruh, ataupun berlimbah akan terus terbawa sampai hilir. Sekali lagi, kita yang ikut menentukannya.Dari perjalanan yang kita miliki, akan menorehkan golongan yang mana. Interaksi aliran yang membawa isi dengan aliran lainnya dan terbawa dalam arus lebih panjang, akan semakin memperanjang sumbangsih hingga hilir. Aliran panjang tiada makna jika hanya membawa limbah, sebagaimana tidak bermaknanya hidup dalam umur panjang jika hanya menorehkan dan menularkan “limbah”.
Menguap
Tidak selamnya air terbawa dari hulu hingga hilir, beberapa di antaranya menguap di tengah perjalanan meski dalam jumlah tidak sebnyak yang sampai hilir. Demikian Yang Maha Kuasa menjadikan kodrat lebih dari air agar hidup tetap berjalan. Tuhan memberikan pintu tobat dan pengampunan yang kita bisa manfaatkan untuk menjernihkan aliran kita, selagi hilir masih belum di ujung ubun-ubun.
Tulisan ini dituangkan oleh orang yang sedang kepanasan ubun-ubunya. Mohon maklum.
Sepak bola (World Cup 2010) hanya sebuah aktifitas yg dimainkan di area panjang 100-110m x lebar 64-75m, tetapi magnetnya bisa menghisap ratusan juta pasang mata dg tingkatan energi yg beraneka ragam



